Blaa bla bla percakapan saya dengan mak oda, teman baru saya yang baik dan (terlihat seperti) sophisticated entu, pada malam di sebuah coffe shop di Jogja mengalir ke sebuah pembahasan mengenai bahasa Inggris, yang ujung-ujungnya berakhir ke cerita masing-masing tentang pengalaman kami dalam mengenal the most sexiest God’s creature yang bernama ‘bule’.
Dari sinilah saya mencoba flashback bagaimana saya dulu, ketika masih duduk di bangku SLTP, demen banget ngumpetin remote TV guna membloking acara yang tayang di Indosiar dari jam 2 siang sampai jam 4 sore. Alasannya adalah karena si stasiun TV swasta ini, yang dulu bisa dibilang nomer wahid di Indonesia, selalu menyuguhkan film-film asing dengan plot kerennya yang almost all made in USA, baik produksi maupun settinganya. Seiring otak ini teracuni oleh film-film entu, keinginan ‘ngarep tinggal di luar negri’ pun muncul pada kala itu. Yang hanya kebayang di pikiran saya adalah bagaimana rasanya tinggal di USA, secara brand-positioning negara adidaya ini di Indonesia sangatlah super; dari film-film Hollywood lah, penyanyi semacam Britney Spears lah sampai runtuhnya menara kembar WTC.
Beranjak duduk di bangku SMA... keingian sayapun bergeser, dari yang tadinya‘ngarep tinggal di luar negri’ menjadi ‘ngarep punya kenalan bule’. Mungkin hal ini didasari oleh kesadaran bahwa harapan yang pertama itu susah sekali untuk digapai. Keinginan yang kedua inilah yang menyeret saya ke sebuah hobby baru yang disebut ‘hunting bule’. Diboncengin dengan niat untuk mengolah bahasa inggris, saya mengajak teman saya, Rahajeng Andika, untuk pergi ke candi Prambanan demi berfoto-foto dengan bule dan praktek ngomong sepatah dua tiga patah kalimat dengan bahasa Inggris yang sangat standar “What’s your name?”, “where are you from?”, dan “what do you think of Indonesia”. Selain menghasilkan hoto-photo yang cukup bagus, disebabkan oleh adanya contrast antara si putih dan si hitam yang sangat kentara, hobby aneh ini memberikan nilai prestige tersendiri ketika orang-orang lokal melihat saya berinteraksi dengan si bule; mungkin yang ada di pikiran mereka adalah “wah keren sekali mas itu, berinteraksi internationally a.k.a gaulnya sama bule-bule”. Dari alasan-alasan sesat inilah saya semakin keranjingan menekuni hobby ini, dan berikut adalah hal-hal yang pernah saya lakukan :
- masuk ke keraton Jogja sendirian hanya untuk berfoto dengan bule (note : hasilnya nihil karena keciutan nyali),
- berkunjung ke Taman Sari beberapa kali dengan niat berfoto dengan bule dan memfasihkan bahasa inggris (note : kadang kadang berhasil dengan sukses),
- ngepepetin sebuah mobil pick-up yang dibelakangnya membawa seorang bapak bule beserta anak lelakinya untuk sekedar mengintrogasinya dengan beberapa pertanyaan, salah satunya “Aren’t you afraid of bomb?” (note : Indonesia pada jaman itu sedang diteror bom di sana sini),
- mengarahkan laju motor saya ke mbak-mbak bule dengan ketawanya yang kencang selagi naik, kalau tidak salah, andong, kalau salah berarti becak, dikawasan Malioboro dan menyakan sebuah pertanyaan “Do you enjoy it?”,
- dan mengerahkan bala pasukan dari teman-teman SMA ketika sedang melakukan study tour di Bali demi berfoto ria dengan para bule yang sedang bebusana hot di pantai Kuta.
Dengan hobby ini I got a lot of nice pictures and nice interactions with the bules, but pathetically I ended up without any friends from any countries.
No comments:
Post a Comment