Ak ik uk ek ok adalah kata-kata yang masih dikeluarkan dari mulut saya bilamana berbicara bahasa Inggris ketika masih duduk di bangku kuliah, padahal saat itu saya tercatat sebagai seorang mahasiswa Sastra Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja. It’s so ironic. Dengan rasa keprihatinan inilah saya mencari cara untuk menuntaskan kebodohan saya dalam keahlian speaking ini. Untuk melanjutkan hobby aneh saya terdahulu itu, hunting bule, saya sudah menutup muka saya. Saya tahu diri kok, tetapi hasrat untuk ‘punya teman bule’ masih lekat di jiwa ini. Puff.
Di awali dengan tawaran teman saya, si Oyo yang bekerja di Via Via, sebuah travel agent dan restoran yang mostly tamunya bule, untuk menjadi seorang motor driver a.k.a kacung untuk mengantarkan si the most sexiest God’s creature ini dari kawasan Prawirotaman, Jogja, ke candi Borobudur dengan sepeda motor, saya akhirnya dapat memulai pergaulan saya dengan para bule. Selanjutnya, ketika mendapatkan tawaran dari Via Via untuk memberikan kesempatan satu bule dari Belgia agar bisa mencicipi tinggal di rumah saya dan menguntit saya, yang notabene adalah seorang student, beraktivitas selama 24 jam, ekspresi saya adalah girang gembira. The bule’s name is Bram and I just got my first bule friend. Walaupun kami tidak begitu kenal dekat, sampai sekarang kami masih saling besurat elektronik dengan dia, sekadar menanyakan kabar masing-masing. Mungkin bisa dimaklumin lah karena I made a good impression of Indonesian on his first visit to Asia. Beberapa kali melakukan trips, yang mengasyikan, semacam ini, akhirnya saya bergabung sebagai freelance guide di bawah Via Via Jogja. It’s so wonderful job bringing tourist to cool places such as Borobudur and Prambanan temples through alternatif small road with beatiful view of padi field and Selokan river. Masih kebayang juga bagaimana si bule bule bertambah bobotnya yang disebabkan ke ‘parno’annya membonceng motor.
Seiring dengan visi menambah pertemanan secara glogal, Tony, anak di kampus saya dulu, menceritakan sak umplik tentang sebuah website yang dapat mempertemukan orang lokal, seperti saya ini, dengan traveler yang sedang berada di Indonesia. Dan melalui website ini kita bisa menampung pelancong, yang rata rata backpaker, untuk stay di rumah kita. Websitenya adalah www.couchsurfing.com. Dari situs inilah saya bertemu bule-bule yang kebanyakan dari negeri Eropa, hingga akhirnya meberikan saya impian untuk bisa tinggal atau sekedar mengunjungi Eropa di kelak hari. Melalui komunitas local dari website inilah saya berjumpa dengan bule-bule yang tinggal di Jogja, entah sedang bekerja, sedang belajar atau sedang travelling dalam waktu yang cukup lama. Dari cukup banyak bule yang saya temui, beberapa hanya sekadar pernah bertemu saja, tetapi ada juga yang benar benar menjadi teman pada akhirnya.
Berinteraksi dengan orang dari berbagai negara dan juga berteman dengannya merupakan sebuah pengalaman hidup yang menyenangkan, tapi satu pelajaran yang saya dapat adalah berteman dengan sedarah bumi pertiwi adalah pertemanan yang terbaik bagi saya.
Mengingat kisah hidup saya ini membuat saya nyengar nyengir sendiri, bagaimana saya dulu sangat gethol sekali mengagung agungkan bule. Padahal sekarang kalo bertemu mereka.... boro boro kepikiran untuk photo bareng... untuk ngajak ngomong saja sudah malaysia ha ha ha .... cukup dilihat sajalah.
Anyway... impian saya waktu SLTP sebentar lagi terwujud lho, Saya bakalan ke USA untuk bersekolah lagi.. saya dapat beasiswa non-degree selama kurang lebih satu tahun. Bakalan hidup dengan bule-bule ini ha ha ha.
No comments:
Post a Comment